Impian Anak Sulung Seorang Petani

Seputarkuliah.com Dewi, begitulah orang-orang memanggilku. Aku dilahirkan dalam keluarga yang cukup sederhana. Ayah, yang hanya bekerja sebagai seorang petani dan ibu yang hanya seorang ibu rumah tangga. Tak banyak yang bisa diharapkan dari penghasilan seorang petani, yang terpenting bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, mungkin itu sudah lebih dari cukup. Terlahir sebagai anak pertama, tentunya memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab tidak hanya untuk menjaga adik-adik, tetapi yang terpenting adalah bagaimana seorang anak pertama mampu menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya. Sejak kecil, aku sudah diajarkan tentang bagaimana cara berusaha dan mensyukuri hidup. Pengajarannya memang bukan secara teori, melainkan sikap dari kedua orangtua yang aku rasakan. Pahit manisnya kehidupan telah aku rasakan sejak kecil. Pahit ketika teman-teman sebayaku bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dan langsung dikabulkan oleh kedua orangtua mereka. Apalah dayaku yang tak sama seperti mereka. Jangankan meminta barang-barang baru, cukup dengan mengatakannya saja aku tak tega. Manis itu ketika ada sedikit rezeki yang dapat dibagi kebahagiaanya dengan sesama. Tak perduli sedikit tidaknya, yang terpenting adalah keikhlasan dalam memberi.

Hari-hari yang kulalui semasa sekolah mulai SD hingga bangku SMA, tak lain adalah belajar. Pernah suatu ketika, guruku mengatakan “kamu ini dapat nilai bagus kalau dikerjain dirumah! Coba kalau dikerjakan di sekolah, hancur!”. Aku tak tahu bagaimana ekspresi wajahku waktu itu, yang pasti aku malu. Yaa, anak mana yang tidak malu jika diberitahu seperti itu di depan teman-temannya? Meskipun masih SD, aku sudah mengerti bagaimana rasanya malu. Aku sadar kalau aku ini bukan lah anak yang pintar, tetapi aku mau berusaha. Mungkin kebanyakan dari temanku jika diperlakukan seperti itu hanya cuek dan menunduk takut, selepas itu mereka kembali ceria selayaknya anak SD. Tapi itu tidak bagiku, hatiku seperti tersayat. Kata-kata itu kujadikan motivasi untuk membakar jiwa semangatku. Akan kubuktikan kalau hal seperti itu tidak akan berlaku selamanya. Alhasil, aku memperoleh nilai terbaik UN di sekolahku. Beberapa kali juga aku pernah meraih juara kelas dan diterima di sekolah terfaforit. Seiring berjalannya waktu, aku mulai aktif di organisasi, baik dalam maupun luar sekolah. Melalui organisasi yang aku ikuti, aku mulai mengerti bagaimana cara memberanikan diri untuk berbicara di depan orang banyak. Seringkali aku dipercayakan sebuah amanah untuk menjadi perwakilan dalam beberapa perlombaan. Hasilnya memuaskan, beberapa kali aku memperoleh juara. Tapi itu sama sekali tidak membuatku besar kepala. Kembali ke hal yang utama, lahir disebuah keluarga yang ayahnya seorang petani.

Baca juga: Langkah-langkah Mengatasi Kecemasan (Anxiety).

Memiliki cita-cita untuk berkuliah tentunya sesuatu yang lucu di benak orang-orang, mungkin. Uang darimana mau bayar kuliah? Bayar uang sekolah dan buku untuk adik-adiknya saja pusing. Ditambah lagi adik bungsunya yang baru berusia 3 tahun, mau beli susu pakai apa? Begitulah cibiran dari orang-orang sekitar yang sekilas pernah kudengar. “tidak usahlah kuliah, kerja saja kalau sudah lulus. Bayar kuliah mahal, gak cukup uang nak, adikmu banyak. Banyak juga yang kuliah tapi jadi pengangguran” nasehat ibu. Ini kesekian kalinya aku menyampaikan keinginanku untuk berkuliah, tetapi respon yang kudapat selalu seperti itu. Hingga akhirnya, terdengarlah kabar mengenai beasiswa bidikmisi yaitu suatu beasiswa yang diperuntukkan bagi anak-anak kurang mampu tetapi berprestasi. Hatiku sangat senang mendengarnya. Kusampaikan kabar itu pada kedua orangtuaku. Mereka biasa saja ketika aku mengatakannya, tidak ada raut penolakan dan tidak pula antusias. Tapi tak apalah, setidaknya mereka mau membantuku dalam mengurus berkas-berkas. Aku berjanji ayah, ibu, akan kubahagiakan kalian kelak, akan kuubah pandangan orang-orang yang memandang kita sebelah mata, ini janji anakmu, ujarku dalam hati.

Tak terasa statusku sebagai siswa tinggal hitungan beberapa bulan lagi. Rencana tentang profesi dimasa depan telah banyak diperbincangkan oleh teman-temanku. Aku? Jangankan mau jadi apa, memastikan diterima tidaknya di universitas saja aku masih ragu. Harapan untuk diterima, tentulah ada. Tapi apalah sebuah pengharapan jika tidak disertai dengan doa. Ditengah waktu menunggu pengumuman, aku memilih untuk berkerja. Aku ingin belajar bagaimana rasanya mencari nafkah. Ternyata, uang Rp.1000 pun sangat berharga. Setiap harinya, aku selalu membawa bekal sebagai makan siangku. Aku tak pernah malu jika teman-temanku tahu kalau aku ini berkerja. Bagiku, selagi itu halal dan tidak merepotkan orangtua, kenapa tidak? Tibalah saatnya pengumuman SNMPTN. Aku tidak lolos. Itu berarti bidikmisiku di jalur ini gagal. Sedih, takut, kecewa, semua bercampur aduk menjadi satu. Aku tak sanggup jika harus menyampaikannya ke orangtuaku. Aku tak tega raut kecewa itu hadir di wajah mereka. Biar mau disembunyikan bagaimanapun juga, bakal ketahuan. Akhirnya aku memilih jujur. Mereka tetap menyemangatiku, tidak ada raut sedih dimata mereka. Aku yakin mungkin jalanku menuju masa depan bukan melalui jalur ini. Pasti ada hikmah disetiap kegagalan. Aku terus berikhtiar dan berdoa untuk dipermudah menuju masa depanku. Jalur SBMPTN? Yaa, itu pilihan terakhirku untuk masuk ke perguruan tinggi.

Aku memutuskan untuk mengikuti tes seleksi ini di Samarinda karena perguruan yang akan kuambil adalah Universitas Mulawarman. Maka, aku nekad untuk datang langsung ke kota tepian ini dengan bermodalkan uang gajianku selama 2 bulan berkerja. Ternyata, ada gunanya juga aku berkerja, tidak merepotkan orangtua. Perasaan was-was akan lolos tidaknya terus menjadi pertanyaan besar dalam benakku. Ya Tuhan, jika memang engkau menakdirkan masa depanku melalui bangku perkuliahan maka loloskanlah aku, tapi jika tidak ,aku mohon berikan aku pekerjaan yang baik dan sesuai dengan kemampuanku, Engkaulah yang maha mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-hambamu” doaku setiap malamnya. Selamat atas keberhasilan anda! Anda dinyatakan lulus pada seleksi SBMPTN 2016 pada program studi Kehutanan, Universitas Mulawarman. Aku lolos?? Syukurlah. Aku yakin Tuhan pasti merencanakan masa depan yang indah bagiku. Inilah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota Samarinda. Kota dengan ribuan perantau yang berusaha merubah nasib. Sejuta harapan mereka bawa kekota ini, tentunya untuk meraih kesuksesan.

Baca juga: Wait for a Minutes, Your Dreams is on Processing.

Jauh dari orangtua mengajarkanku arti kemandirian dan kerinduan. Aku tidak pernah mengeluh jika setiap harinya harus berjalan kaki untuk kekampus. Bagiku disitulah letak perjuanganku bahwa aku serius ingin menjadi orang sukses. Ketika rasa malas itu muncul, aku selalu membayangkan wajah letih kedua orangtuaku, terlebih ayah. Jauh dilubuk hatiku sebenarnya aku berkuliah bertujuan untuk membahagiakan kedua orangtuaku. Aku ingin mengangkat derajat keluargaku, aku ingin membuktikan bahwa anak petani juga bisa menempuh pendidikan sarjana. Tentunya menjadi sarjana yang berkualitas bukan yang labelnya sekedar sarjana. Aku selalu terbayang akan kedua wajah letih itu yang makin hari makin menua. Akan ada masanya aku yang menjadi tulang punggung bagi keluargaku, mencari nafkah bagi adik-adikku.

Besar harapanku untuk menjadikan mereka orang-orang yang sukses, lebih dari kakaknya ini. Selama mengenyam bangku kuliah, syukurlah saat ini IPK yang kuperoleh lumayan bagus yakni, 3,73. Nilai ini merupakan bagian kecilnya saja atas usaha yang telah kulakukan. Semoga bisa terus mengalami peningkatan disetiap semesternya. Untuk saat ini telah aku buktikan bahwa anak seorang petani dan penerima beasiswa bidikmisi juga bisa berprestasi dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Itu terletak dari individunya masing-masing. Malah banyak yang berasal dari golongan atas tapi tidak ada motivasi untuk berprestasi, mereka seolah-olah menjadi acuh tak acuh.

Artikel berjudul “Impian Anak Sulung Seorang Petani” ini adalah artikel lomba yang di adakan oleh Redaksi Seputar Kuliah (www.seputarkuliah.com).

Ditulis oleh: Dewi Santa Maria Bakara.
(Bisa disapa lewat facebook: Dewi Santa Maria Bakara)

#SeputarKuliah #SeputarkuliahCom

Bagikan:

3 thoughts on “Impian Anak Sulung Seorang Petani

  1. Pingback: Mencari Terang Setelah Gelap

  2. Pingback: BERAWAL DARI KEGAGALAN

  3. Pingback: Tak Kenal maka Tak Sayang - Artikel Seputar Kuliah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *