Berawal dari Sebuah Kegagalan

Seputarkuliah.com Tahun 2015 akhir hingga tahun 2016 , merupakan tahun yang cukup menyibukkan bagi saya. Layaknya seorang siswi SMA kelas XII, hari-hari saya dipenuhi oleh pekerjaan rumah (PR) yang tidak sedikit, pemantapan menuju UN serta bimbel menuju UN dan SBMPTN. Lelah seringkali mendatangi saya. Rasanya terpikir dalam benak “Kapan yaa semuanya beres? Aku udah capek belajar terus”. Tapi, mau gimanapun semuanya akan saya hadapi cepat atau lambat. Alhamdulillah teman-teman saya di sekolah sangat membantu sebagai moodbooster saya ketika lelah.

Tak terasa, hari-haripun beranjak sangat cepat. Bulan Februari, pembukaan pendaftaran SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) mulai dibuka. Alhamdulillah saya berhasil lolos dan termasuk ke dalam kuota 75% siswa yang berhak mengikuti SNMPTN. Rasanya senang sekali perjuangan saya untuk mengonversi nilai dari skala 10-100 ke skala 1.00-4.00 membuahkan hasil. Saya memilih 3 program studi di 2 PTN yang ada di Bandung (2 prodi di 1 PTN & 1 prodi di 1 PTN lainnya). Saat itu saya sudah mulai memasuki masa-masa ujian praktik, kemudian ujian sekolah, lalu akan menjalani Ujian Nasional di bulan April.

Baca juga: Mencari terang setelah gelap.

Sambil menunggu pengumuman SNMPTN, orang tua saya menyarankan saya untuk mendaftar program PMDK di sebuah PTS di Bandung. Saat itu saya bingung antara memilih jurusan Psikologi atau Ilmu Komunikasi. Beberapa kali saya selalu diskusi dengan orang tua saya, namun tetap pilihan ada di tangan saya. Awalnya saya sangat ingin memilih Ilmu Komunikasi, namun akhirnya Psikologi lah yang saya pilih dan saya segera mengikuti psikotest beberapa hari setelah saya mendaftar. Saat itu saya terlalu yakin dengan omongan “Ah santai aja, biasanya PTS lebih gampang kok masuknya”, hingga ternyata saya mendapat kabar buruk karena saya tidak diterima oleh PTS tersebut. Saya sedih, lagi-lagi mengecewakan orang tua saya. Saya menyesal kenapa saya pilih prodi tersebut, padahal teman-teman saya yang ikut PMDK dan memilih prodi Ilmu Komunikasi semuanya keterima.

Selang beberapa minggu, akhirnya saya kembali memutuskan untuk mendaftar ikut Ujian Saringan Masuk (USM) di PTS yang sama. Sebelumnya, saya terpuruk dan mulai pusing sehingga sempat bertengkar dengan ibu dan bapak saya karena perasaan dan pikiran kami yang sedang sama-sama pusing. Saya dihadapkan dengan 2 pilihan prodi dan saya bingung mau pilih yang mana. Banyak pikiran sekali rasanya, karena harus belajar, harus menentukan prodi yang ingin dipilih, dan saya juga kepikiran harus bagaimana supaya cepat baikan dengan ibu dan bapak saya. Karena terlalu lama marahan itu gak baik, saya pun memberanikan diri untuk meminta maaf kepada ibu dan bapak saya. Saya juga meminta restu dari mereka untuk mengikuti USM tersebut. Karena di 5 hari terakhir penutupan pendaftaran saya masih saja bingung, saya pun shalat istikharah. Akhirnya di hari terakhir pendaftaran semuanya terjawab, saya memutuskan untuk memilih prodi Ilmu Komunikasi sesuai dengan rekomendasi orang tua saya. Sekitar 1 minggu setelahnya, saya mengikuti USM. Kali ini saya optimis dan yakin bisa diterima. Alhamdulillah, 2 minggu kemudian keluar pengumuman hasil USM gelombang 1 dan saya diterima di prodi Ilmu Komunikasi di PTS tersebut.

Baca juga: Impian anak sulung seorang petani.

Singkat cerita, bulan Mei awal saya menerima pengumuman SNMPTN. Di hari itu saya memilih untuk menunggu jam 14.00 dengan bermain dengan teman saya ke sebuah mall karena saya ingin menghilangkan perasaan berdebar sejenak. Kira-kira jam 15.00, saya segera login ke website SNMPTN. Namun ternyata kali itu saya belum diterima di PTN impian saya dan harus berjuang lebih keras lagi di SBMPTN. Kali itu saya ikhlas dan optimis bisa diterima di PTN dan program studi impian saya lewat SBMPTN. Hari-hari selanjutnya dipenuhi oleh jadwal intensif bimbel yang sangat padat. Lagi-lagi saya pasti sesekali merasa lelah karena tiada hari tanpa belajar, namun saya tetap terus semangat dan tidak ingin mengecewakan orang tua saya.

Di akhir bulan Mei, tibalah saatnya saya mengikuti SBMPTN. Saya merasa yakin di pelajaran Soshum, TKPA, dan Bahasa, namun takut di pelajaran Matematika karena pada saat itu saya merasa ragu-ragu menjawabnya. Namun semua itu sudah lewat, saya hanya bisa berdoa dan tawakal kepada Allah apapun hasilnya nanti. Ternyata, saya kembali gagal untuk masuk ke PTN impian saya. Saat menerima pengumuman, saya menangis sejadinya karena rasa sedih saya. Saya sedih karena tidak bisa masuk ke PTN impian saya, tidak bisa membanggakan orang tua, dan sedih karena rata-rata teman dekat saya semua kuliah di PTN. Namun orang tua saya menerimanya dan menghibur saya bahwa apa yang saya lakukan sudah yang terbaik dan mereka sangat mengapresiasi usaha saya.

Akhirnya saya memilih PTS sebagai tempat saya berkuliah. Saat ini saya sudah semester 2. Berawal dari ke ikhlasan saya menerima semuanya, saya yakin di PTS ini lah takdir saya. Allah punya rencana terbaik untuk saya disini. Alhamdulillah karena saya juga senang menjalani kehidupan kuliah saya dan prodi saya juga sangat cocok dengan diri saya, saya berhasil meraih IPK 3,95 di semester sebelumnya. Selama di kuliah ini, saya sudah mengikuti kegiatan kepanitiaan, dan menjadi anggota di sebuah media partner. Banyak pengalaman yang saya dapatkan setelah bergabung di media partner tersebut. Saya jadi tau rasanya menjadi reporter di event-event, saya juga bisa melatih kemampuan menulis saya lewat review-review dan artikel yang saya buat di website media partner tersebut. Memang perjalanan saya masih di awal, tapi semoga ini bisa memotivasi saya dan menjadi awal yang baik kedepannya.

Baca juga: Wait for a Minutes, Your Dreams is on Processing.

Dalam menjalani kuliah, yang terpenting adalah carilah jurusan/program studi yang sesuai dengan karakter kalian masing-masing. Jangan terpengaruh oleh orang lain, karena yang akan menjalani semuanya adalah diri kalian sendiri, bukan orangtua kalian, bukan juga teman-teman kalian. Lalu, kalian juga harus selalu ingat bahwa kuliah itu tidak murah, banyak yang menginginkan untuk kuliah namun cita-cita itu gagal karena keterbatasan biaya. Bersyukurlah kalian, yang bisa diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan perkuliahan. Bersungguh-sungguhlah dalam kuliah, karena perjuangan orangtua kalian dalam mencari biaya tidaklah mudah. Bahagiakanlah orangtua dengan prestasi kalian, karena itulah hadiah terindah yang diinginkan oleh orangtua kalian.

Untuk adik-adik yang mau masuk kuliah, jangan berkecil hati kalau belum bisa diterima di PTN/PTS yang kalian mau. Karena bisa saja yang kalian inginkan itu bukan yang terbaik untuk kalian. Kalian bisa ikut SBMPTN/ujian mandiri di tahun depannya. Juga jangan iri sama teman-teman kalian yang bisa masuk PTN, karena mau dimanapun kalian kuliah, di PTN/PTS manapun semuanya tergantung pada individu masing-masing, bukan universitasnya. Lebih baik jadi raja di kota yang kecil, daripada jadi prajurit di kota yang besar. Tetap semangat!

Artikel berjudul “Berawal dari Kegagalan” ini adalah artikel lomba yang di adakan oleh Redaksi Seputar Kuliah (www.seputarkuliah.com).

Ditulis oleh: Zuraida Novi Annisa.
(Bisa disapa lewat Facebook : Zuraida Novi Annisa)

#Seputarkuliah #SeputarkuliahCom

Bagikan:

One thought on “Berawal dari Sebuah Kegagalan

  1. Pingback: Mengejar Mimpi Hingga Ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *