Potret Pendidikan Dibalik Tirai Pariwisata Bali

SEPUTAR KULIAH – Bali merupakan sebuah pulau dijajaran nusantara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Keindahan yang dimiliki Pulau Bali tentu sudah tidak diragukan lagi. Buktinya saja pada TripAd visor Travellers ‘Choice Award dalam lingkup Global dan Asia 2016, Pulau Bali diganjar peringkat 5 kategori “Top 10 Islands in the World” yang juga menjadikan Pulau Dewata sebagai peringkat 1 pada lingkup Asia. Hal ini merupakan pencapaian yang sangat benar bagi Indonesia, khususnya Bali Sendiri. Namun dibalik kesuksesan Bali sebagai destinasi pariwisata dari data dinas Pendidikan Provinsi Bali terdapat 1.686 anak putus sekolah pada tahun 2005-2006. Sungguh miris bukan disebuah pulau yang sangat ramai akan hingar- bingar pariwisatanya ternyata masih banyak anak- anaknya bermimpi hanya untuk mendapatkan pendidikan, yang seharusnya sudah menjadi hak mereka sebagai feedback akan keindahan alam pulau kelahiran mereka.

Mari pergi sejenak dari keindahan Ubud, beranjak dari deburan ombak Nusa Dua. Sedikit bergeser ke sebuah daerah cukup terkenal diBali. Gunung Batur, ya gunung merapi aktif setelah gunung agung ini kerap kali menjadi pilihan refresing anak muda untuk menjajaki puncaknya. Tapi taukah anda sebuah desa kecil di kaldera Gunung Batur ini?. Desa Binyan Buahan Kintamani kabupaten Bangli, merupakan sebuah desa yang berada didaerah perbukitan kaldera milik gunung Batur. Walau sebenarnya daerah ini cukup dekat dengan tempat pariwisata namun masih banyak anak-anak didaerah ini memilih untuk putus sekolah. Alasannya cukup sederhana, jarak sekolah yang cukup jauh, transfortasi yang tidak memadai, keadaan ekonomi yang rendah bahkan tingkat pendidikan keluarga yang rendah merupakan pemicu utama anak memilih untuk putus sekolah.

 

Letak geografis daerah mereka memang cukup sulit diakses, apalagi kendaraan memang jarang lalu lalang karena akses masuk desa cukup sulit. Fakta mencengangkan yang saya dapatkan adalah bahwa di desa kecil dengan warga ramah tersebut. Sebagian besar masyarakatnya putus sekolah. Bahkan kini anak-anaknya terancam putus sekolah. Fasilitas pendidikan yang tersedia didesa hanya sebuah SD Negeri, sedangkan SMP berjarak sekitar 20 menit perjalanan menggunakan kendaraan. Namun pertanyaannya dimana anak-anak SMP ini mencari kendaraan ketika, sepeda motor saja mereka tidak punya. Untuk masuk SD saja anak- anak di Desa Binyan harus melewati jalan sekitar 3 km. Tidak jauh bukan? Hanya 3 km, namun medannya bukan hanya aspal tapi jalan tidak rata yang jika saya tapaki sangat melelahkan.

Simak juga: Pendidikan Indonesia, Merosot atau Membaik?
Baca Juga:

Jauh pergi dari kaldera gunung batur, kini mari kita pergi ke kaki gunung berapi berikutnya yaitu Gunung Agung. Terdapat sebuah desa bernama desa Bhuana Giri. Desa ini terletak tepat di kaki gunung Agung. Jika selama ini banyak pendaki yang pergi ke gunung Agung yang megah itu, di kaki gunungnya ada banyak anak- anak SD yang masih harus melewati “Sungai mati” untuk menggapai sedikit cita-citanya dengan sekolah SD. Ketika dimusim panas sungai mati akan mengering sedangkan dimusim hujan anak-anak harus melepas sepatu dan seragam mereka untuk bisa sampai di SD. Miris ketika banyak anak-anak yang masih bolos sekolah ternyata banyak anak-anak lain yang harus berjuang keras untuk bersekolah. Dibalik megahnya pasir yang dihasilkan dikakinya, dibalik besarnya pendapatan daerah yang dihasilkan oleh daerah ini. Ternyata masih banyak peluh anak-anak SD yang bercecer hanya demi bisa masuk SD.

Kenapa yang saya bahas adalah daerah- daerah di kaki gunung. Karena selama ini daerah tersebut bisa dikatakan merupakan daerah yang terbelakang. Dalam sejarah Bali dikatakan bahwa ketika ada perpindahan penduduk ke Bali terjadi akibat jatuhnya kerajaan Majapahit, banyak warga Bali asli yang memilih pergi dan menetap dipegunungan karena digeser oleh pelarian kerajaan Majapahit. Kemudian sekarang ketika Bali sudah menjadi daerah yang kaya akan keindahaan alam serta maju pariwisatanya. Mereka warga Bali asli seolah-oleh tidak dapat menikmati kekayaan tanah kelahirannya sendiri. Ketika ada banyak hotel bertingkat mewah diKuta , ternyata masih banyak warga yang menampung air hujan karena kesulitan mencari air bersih di Kaldera Gunung Batur. Ketika sudah banyak pipa- pipa PDAM di perkotaan ternyata masih banyak warga yang kesulitan air bersih. Kemudian haruskan kini kita mulai menuntut kepada pemerintah akan ketimpangan yang terjadi?. Janganlah menjadi generasi penuntut, ketika kita sudah diajarkan tentang cara penyaringan air bersih di SMA bahkan di SD dulu, kenapa kita tidak pergi ke daerah tersebut untuk langsung membantu disana. Ketika pemerintah sudah memberi kita subsidi biaya perkuliahan kenapa tidak meluangkan waktu kalian untuk berbagi pendidikan yang kalian miliki ke daerah-daerah tersebut.

Masih banyak daerah tertinggal lainnya, mungkin akan semakin banyak ketika kita generasi muda tidak mau bergerak mulai sekarang. Ketika kita generasi muda memilih untuk menuntut kepada pihak lain. Ketika kita generasi muda sibuk kuliah diluarnegeri kemudian menetap diluarnegeri. Bukankah akan menjadi lebih menjadi bangga ketika kalian bisa kuliah diluarnegeri kemudian kembali kedaerah asal dan membangun tanah kelahiran sendiri, berbagi dengan saudara-saudara kita. Lewat tulisan ini saya ingin membuka mata semua orang bahwa, kita khususnya generasi muda masih punya banyak PR yang harus segera diselesaikan. Beginilah kondisi dipulau Bali yang selama ini ditutupi oleh megahnya tirai pariwisata Bali.

Artikel berjudul “Potret Pendidikan Dibalik Tirai Pariwisata Bali” ini adalah artikel lomba yang di adakan oleh Redaksi Seputar Kuliah (www.seputarkuliah.com)
Ditulis oleh: Putu Indah Gita Pramesti
Follow Putu Indah Gita Pramesti di Instagram: gittapramesti
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.

Leave A Reply

Your email address will not be published.