Guru dan Problemanya

Seputarkuliah.com – Seperti yang kita ketahui, pendidikan adalah hal yang sangat penting. Pendidikan adalah mata pedang dan kekuatan. Bahkan, Nelson Mandela pernah berkata bahwa, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Pendidikan adalah senjata terkuat yang dapat kamu gunakan untuk mengubah dunia. Pendidikan yang baik akan menghasilkan generasi penerus yang berkualitas.

Dewasa ini, pemerintah selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Mereka mengubah kurikulum, menambah jam belajar, menggagas program literasi, dan hampir menerapkan program full day school bagi murid sekolah dasar. Begitu banyak kebijakan yang digagas, namun, pemerintah tampaknya lupa untuk menengok “jantung” dari keberhasilan pendidikan itu sendiri. “Jantung” tersebut tidak lain adalah para guru.

Mengutip pernyataan Adolph Diesterweg, “a teacher and his way of thinking – that’s what is most important in any educational system.” Guru adalah napas dan ritme dari pendidikan itu sendiri. Melalui seorang guru, masa depan seorang anak dibentuk begitu pula masa depan bangsa. Pertanyaannya, dengan tugas sepenting dan seberat itu, apakah para guru di Indonesia telah mendapatkan penghargaan yang layak?

Simak juga : Pendidikan Intelektual atau Pendidikan Karakter.

Telah menjadi rahasia umum bahwa profesi seorang guru bukanlah profesi yang memiliki prestige yang tinggi di Indonesia. Guru seringkali dipandang sebagai orang-orang yang berasal dari kalangan menengah ke bawah yang kurang mampu secara finansial dan dulunya mengambil pendidikan guru karena jurusan tersebut hanya membutuhkan biaya yang cukup rendah. Orang-orang yang menjadi guru dianggap tidak memiliki pilihan lain sehingga “berakhir” sebagai seorang guru. Profesi guru di Indonesia adalah profesi yang paling tidak dapat dibanggakan dan jarang diapresiasi oleh orang lain. Jujur dan akuilah, seperti inilah pandangan terhadap guru-guru di Indonesia bukan?

Banyak anak muda cerdas yang mencintai dunia pendidikan serta berkeinginan mendedikasikan dirinya untuk menjadi seorang guru. Namun, apa kata orang tua serta orang-orang terdekat mereka? “Jangan, Nak. Gaji guru itu kecil, enggak bisa hidup kamu kalau jadi guru. Mendingan kamu jadi arsitek atau pengacara, hidupmu lebih terjamin.” Wahai para orang tua, apa kalian setuju dengan penyataan di atas?

Seperti yang kita ketahui, guru-guru di Indonesia mendapatkan gaji yang kecil. Demikian kecil sampai membuat orang-orang menjadi takut dan ragu untuk menjadi seorang guru. Data dari Kementrian Keuangan menunjukkan bahwa pada tahun 2017 ini, gaji seorang guru tetap (PNS) di Indonesia untuk golongan I adalah berkisar dari 1.5jt – 2.6jt perbulan, untuk golongan II adalah berkisar dari 1.9jt – 3.6jt perbulan, untuk golongan III adalah berkisar dari 2.5jt – 4.6jt perbulan, dan yang terakhir untuk golongan IV adalah berkisar 2.9jt – 5.6jt perbulan. Gaji seorang guru honorer tentunya lebih kecil lagi. Bukankah ini sangat menyedihkan?

Baca Juga:

Guru adalah kunci dari masa depan bangsa karena berpuluh-puluh tahun ke depan, Indonesia akan digerakkan oleh orang-orang yang sekarang sedang dididik oleh seorang guru. Guru memegang peranan besar akan masa depan Indonesia. Karena itu, bagaimana mungkin para guru tidak digaji dengan layak? Bagaimana mereka dapat memberikan yang terbaik kepada muridnya, mengajar dengan sepenuh hati, mentransfer ilmu, menanamkan kebaikan di hati murid, membentuk karakter murid, mengajarkan toleransi, rasa kemanusiaan, persaudaraan apabila mereka harus khawatir dengan apa yang akan mereka makan esok hari, bagaimana cara membayar tagihan listrik dan air setiap bulan, serta pusing memikirkan bagaimana membayar pengobatan anak mereka yang sedang sakit di rumah?

Guru-guru di Indonesia mengalami masa-masa yang berat menjadi seorang guru. Mereka kurang dihargai keberadaannya oleh pemerintah dan lembaga pendidikan tempatnya berdedikasi, tidak digaji dan diberikan fasilitas yang layak, kurang diperhatikan kehidupan keluarganya, dan yang paling mengecewakan adalah para guru tidak mendapatkan kehormatan, apresiasi, dan dukungan yang sepatutnya mereka dapatkan. Guru adalah “pahlawan tanpa tanda jasa”. Memang benar mereka tidak menerima tanda jasa, tapi setidaknya bisakan berikan mereka kehidupan yang nyaman dan pantas?

Seringkali terlihat guru-guru yang tetap megajar meskipun dalam keadaan sakit. Dengan wajah pucat, suara sengau, dan mengenakan masker beliau tetap mencoba untuk tersenyum dan mengajar dengan baik. Kira-kira mengapa? Sejauh ini ada dua alasan yang saya temukan. Yang pertama, rasa sayang seorang guru terhadap murid-muridnya begitu besar, sehingga beliau tidak ingin murid-muridnya ketinggalan pelajaran dan melewatkan satu hari dengan sia-sia. Yang kedua, apabila tidak masuk, gaji sang guru akan dipotong walau karena sakit. Dapatkah kalian bayangkan? Sudah gaji kecil, dipotong pula. Bukankah tampak ada yang salah di sini?

Seperti yang dapat kita lihat, guru adalah profesi yang sangat berat di Indonesia. Mereka kurang diperhatikan, kurang diberi kebebasan untuk mengembangkan kurikulum, diberi tugas mengajar bahan yang begitu banyak, digaji rendah, dan tidak mendapatkan apresiasi yang seharusnya mereka dapatkan. Paling-paling hanya saat Hari Guru saja bukan? Tolonglah, guru adalah profesi yang paling mulia sekaligus paling diremehkan. Mengapa? Karena guru berkarya untuk masa depan, sihir mereka bekerja nanti. Guru ibarat menanam benih yang buahnya hanya dapat kita petik dan nikmati berpuluh-puluh tahun dari saat ini. Karena ketidakinstanan hasil yang diberikan itulah, guru seringkali diremehkan. Profesi guru bukanlah profesi idaman dan bahkan terkesan sebagai “pilihan terakhir”.

Jadi, masih bertanya-tanya mengapa Bangsa Indonesia tidak maju-maju walau bertahun-tahun telah merdeka dan kebijakan pendidikan terus dikembangkan? Mungkin, kita lupa satu hal, guru. Benahilah guru lalu berikutnya benahilah sistem. Berilah para guru gaji yang pantas, apresiasi mereka, dukung mereka, ubah pola pikir kita tentang profesi guru yang dianggap terbelakang. Ingatlah, membenahi pendidikan dan guru bukanlah pengeluaran, tapi investasi. Hasilkan guru-guru yang kritis, maka dengan doa dan kesungguhan masa depan Indonesia akan menjadi lebih baik.

Artikel berjudul “Guru dan Problemanya” ini adalah artikel lomba yang di adakan oleh Redaksi Seputar Kuliah (www.seputarkuliah.com).

Ditulis oleh: shirleen firdaus oeyliawan
(Bisa disapa lewat kontak Line: shirleenoey)
Comments