Potensi Levamisole Sebagai Terapi Adjuvan Untuk Mempersingkat Terapi Pada Pasien Tuberkulosis Paru

Izinkan saya membuka artikel ini dengan quotes:

Hari ini perjuangan manusia melawan Tuberkulosis semakin lebih kuat namun Tuberkulosis terus kembali dengan strategi (mutasi) yang baru

Tahukah Anda?

Setiap satu menit muncul satu penderita baru TB baru. Setiap dua menit muncul satu penderita baru TB yang menular dan setiap empat menit satu orang meninggal akibat TB di Indonesia ( Siswono, 2009).

Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50% dari penderita TB paru meninggal dunia, 25% dapat bertahan hidup dengan daya tahan tubuh yang bagus dan 25% kasus kronik yang tetap menular. Tingginya kematian yang disebabkan TB paru umumnya karena ketidakpatuhan pasien menjalani pengobatan TB paru yang lama yaitu sekitar 6 bulan.

Sekarang ini dunia lagi berperang menghadapi infeksi tuberkulosis yang jauh lebih kuat yang disebut Multi Drug Resistant Tuberculosis ( MDR-TB ). Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menemukan suatu obat yang efektifitasnya tinggi dengan efek samping seminimal mungkin untuk mengatasi MDR-TB. Berbagai obat yang telah teruji efektifitasnya melawan MDR-TB seperti Delamanid dan Bedaquiline. [4] Selain itu ada juga kombinasi obat seperti Levamisole ( obat anti kecacingan dan juga immunomodulator) dengan Obat Anti Tuberkulosis yang sedang diuji efektifitasnya. [5]

Melalui tulisan ini, penulis mengharapkan dari tulisan ini akan dibaca oleh banyak orang untuk menambah wawasan di dunia kesehatan.

Baca Juga : Generasi muda, dimanakah peranmu?

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada para pembaca tulisan ini. Penulis juga menerima berbagai saran dan kritikan demi kemajuan esai yang akan ditulis dikemudian hari.

Prevalensi Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis (TB) paru merupakan satu dari sepuluh penyebab kematian utama diseluruh dunia. Berdasarkan data dari WHO, pada tahun 2016, 10,4 juta orang terinfeksi dengan tuberkulosis, dan 1,7 juta orang meninggal karna penyakit ini ( 0,4 juta penderita TB mendapatkan infeksi HIV ). [1]

Morfologi dan Identifikasi Mycobacterium tuberculosis

Bakteri berbentuk batang tipis dan lurus, berukuran 0,4 x 3µm, bakteri non spora dan bersifat aerobik ( Gambar 1). Mycobacteria sp tidak bisa digolongkan kedalam bakteri gram positif maupun gram negatif. [2] Mycobacteria sp, termasuk M. tuberculosis, bersifat netral pada pewarnaan Gram. Namun, setelah diwarnai, bakteri ini tidak bisa di hilangkan pewarnaannya dengan asam alkohol; Karakteristik inilah yang menjadikannya sebagai bakteri tahan asam. [3] Sifat tahan asam ini disebabkan oleh tingginya kandungan dari mycolic acid, rantai panjang asam lemak yang saling bersilangan, dan zat lipid lainnya dari dinding sel.

Di dinding sel mycobacteria sp, lipid (misalnya mycolic acid) berikatan dengan arabinogalaktan dan peptidoglikan. Struktur ini memberikan permeabilitas dinding sel yang sangat rendah, sehingga mengurangi keefektifan kebanyakan antibiotik. Molekul lain di dinding sel mycobacteria sp, lipoarabinomannan, terlibat dalam interaksi patogen-host dan memfasilitasi kelangsungan hidup M. tuberkulosis dalam makrofag. [3]

Mycobacterium tuberculosis (yang ditunjuk tanda panah) diambil dari spesimen sputum dan diwarnai pewarnaan Ziehl Neelsen dengan bakteri berwarna merah dengan latar belakang berwarna biru. (Sumber gambar diambil dari Harrison Infectious disease).

Patogenesis

Mycobacteria tuberculosis disebarkan dalam bentuk droplet yang diameternya lebih kecil dari 25 μm saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara. Droplet tersebut menguap, meninggalkan organisme yang cukup kecil, saat terhirup, akan masuk ke alveoli. Di dalam alveoli, sistem kekebalan tubuh host merespons dengan melepaskan sitokin dan limfokin yang merangsang monosit dan makrofag. Mycobacteria tuberculosis  mulai berkembang biak dalam makrofag.

Beberapa makrofag mengembangkan kemampuan yang ditingkatkan untuk membunuh organisme, tapi yang lain mungkin terbunuh oleh bakteri ini. Lesi patogen yang terkait dengan infeksi akan muncul di paru-paru 1-2 bulan setelah paparan.

Penggunaan Levamisole Sebagai Terapi Tambahan

Levamisole selain sebagai obat anti kecacingan juga digunakan sebagai obat yang merangsang pembentukan sistem imun atau yang disebut Immunomodulator. Pada penggunaan obat anti tuberkulosis dengan levamisole selama 2 bulan menunjukkan hasil berupa sputum negatif, perubahan lebih baik pada pemeriksaan radiologis. [5]

Hal ini menunjukkan bahwa levamisole memiliki potensi memperpendek durasi terapi tuberkulosis.

Sumber:

  1. WHO | Tuberculosis. WHO [Internet]. 2017 [cited 2017 Dec 08]; Available from: who.int/mediacentre/factsheet/fs104/en/
  2. Carroll KC, Morse SA, Mietzner T, Miller S. Jawetz, Melnick & Adelberg’s Medical Microbiology. 27th ed. USA: The McGraw-hill companies; 2016.
  3. Kasper DL and Fauci AS. Harrison’s Infectious Disease. 2nd ed. USA: The McGraw-hill companies; 2013.
  4. Ambrosio LD, et al. Delamanid and Bedaquiline to treat multidrug-resistant and extensively drug-resistant tuberculosis in children: a systematic review. Journal of Thoracic Disease [Internet]. 2017 June 16 [cited 2017 Dec 08] ; 9(7):2093-2101. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5542985/
  5. Shamkuwar CA, et al. Levamisole as an Adjuvant to Short-Course Therapy in Newly Diagnosed Pulmonary Tuberculosis Patient. Advanced Biomedical Research [Internet]. 2017 Mar 28 [cited 2017 Dec 08] ;6: 37. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5385702/

 


Penulis:

Nama: Ridwan Balatif
Media sosial
Line: ridwanbaalatif
Ig: ridwan_balatif

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *