Pendidikan Pondasi Bangsa

Dewasa ini, pendidikan adalah salah satu kebutuhan mendasar yang dibutuhkan oleh setiap orang. Pendidikan seakan-akan menjadi kebutuhan pokok karena pesatnya perkembangan zaman. Di Indonesia khususnya, sistem pendidikan sudah diterapkan mulai sebelum Indonesia merdeka hingga saat ini. Tentunya tiap sistem yang telah diterapkan mempunyai evaluasi-evaluasi tersendiri sehingga sistem tersebut selalu mengalami perubahan.

Banyak aspek yang dipertimbangkan dalam menentukan suatu sistem pendidikan. Mulai dari aspek sosial, ekonomi, politik, dll. Namun, ada satu hal yang jarang sekali diperhatikan oleh pemerintah dalam merancang sistem pendidikan, yaitu kesejahteraan masyarakat yang mengenyam pendidikan tersebut. Contoh mudahnya adalah, kurikulum pendidikan di Indonesia beragam macamnya, kurikulum yang lama seperti kurikulum 1994, KBK 2004, dan KTSP 2006 memiliki perkembangan yang bagus daripada kurikulum sebelumnya, namun perubahan signifikan diterapkan pada kurikulum 2013. Dimana kurikulum yang digunakan sebelumnya lebih menerapkan kegiatan belajar mengajar satu arah, atau guru yang sepenuhnya mengajari dan memberikan ilmu, pada kurikulum 2013, para pelajar dituntut untuk aktif serta dalam mencari materi pelajaran yang akan dipelajari, dan sistem kegiatan belajar mengajar yang digunakan lebih mengarah pada diskusi dua arah. Suatu perubahan yang menarik dan sangat berpengaruh tentunya, apalagi bagi para pelajar yang lahir pada tahun 1997 ke atas pasti sudah terbiasa dengan kurikulum yang lama.

 

Mengenai kurikulum 2013 dalam penerapannya pasti menuai pro dan kontra, baik dari kalangan pelajar itu sendiri maupun masyarakat luas. Menurut pendapat saya, kurikulum 2013 merupakan sistem yang “wah” karena mengadopsi metode pembelajaran dari negara-negara dengan tingkat pendidikan yang mumpuni seperti Finlandia. Metode pembelajaran yang diubah menjadi diskusi dua arah tentunya membuat para pelajar semakin kritis dalam berpikir dan menyelesaikan suatu permasalahan. Namun, ada teman pasti ada musuh, ada pro, pasti ada kontra. Kurikulum 2013 pada awalnya ditentang oleh kebanyakan masyarakat karena perubahan sistem pembelajaran yang cukup banyak. Para pelajar harus mencari dan mempelajari materi pelajaran sendiri terlebih dahulu sebelum diskusi dengan guru, mengingat para pelajar generasi sekarang telah terbiasa menerima materi pelajaran secara “manja” melalui guru. Belum lagi kebutuhan teknis pembelajaran seperti buku yang selalu berganti tiap tahun tentu memaksa para orang tua untuk merogoh kocek lebih dalam untuk biaya pendidikan sang anak. Belum lagi karena di sekolah harus mengetahui materi lebih dulu sebelum berdiskusi sedangkan kebanyakan pelajar yang mengalami transisi kurikulum pasti bingung memahami materi yang belum pernah diajarkan sebelumnya, sehingga kebanyakan pelajar pasti mengikuti bimbingan belajar di luar jam pelajaran untuk belajar materi yang akan didiskusikan, yang mana akan menambah biaya yang dikeluarkan oleh orang tua.

Sistem pendidikan kurikulum 2013 terkesan menyiksa para pelajar. Biaya yang mahal, waktu yang digunakan untuk keperluan sekolah bahkan lebih lama daripada waktu untuk bersama keluarga karena waktu luang para pelajar digunakan untuk mengikuti bimbingan belajar. Bagi sebagian keluarga, menyebabkan hubungan antara anak dan orang tua makin renggang, karena orang tua sibuk mencari nafkah dan sang anak sibuk untuk mengenyam pendidikan. Waktu yang terlalu awal bagi para pelajar untuk merasakan “cobaan dunia”. Namun tentu saja setelah sekian lama masyarakat mulai terbiasa dengan kurikulum baru ini, dan sudah mulai mengubah pola hidup lama, ke pola hidup yang baru untuk menyesuaikan diri. Walaupun tentu saja, nantinya kurikulum ini mungkin akan mengalami perubahan kembali karena evaluasi-evaluasi yang ada.

Baca Juga:

Sebenarnya, yang diperlukan oleh pendidikan di Indonesia hanya satu, yaitu suatu pola pendidikan yang tetap. Selama ini sistem pendidikan di Indonesia selalu berubah-ubah. Mulai dari sistem yang berat, menjadi ringan, lalu menjadi berat kembali. Hal ini dikarenakan pemerintah terlalu mengikuti perkembangan zaman dan tidak memperhatikan “karakter” dari generasi muda Indonesia yang beragam. Jika selalu diubah-ubah bagaimana generasi muda Indonesia mempunyai pola pikir yang kritis tentang negara ini? Mungkin menjadi kritis, tapi bukan kritis akan masalah-masalah yang ada, tapi kritis mengenai betapa labilnya pemerintah Indonesia dalam menerapkan sistem pada sebuah negara. Negara yang maju adalah negara yang mempunyai dasar hukum yang tetap, mempunyai sistem yang tetap, yang dirubah sesuai kebutuhan, bukan merubah dengan alasan “belum mencoba sistem yang baru”.

Tentu pemerintah pasti mempunyai maksud tertentu dalam menerapkan sistem pendidikan yang sekarang, kita tinggal menunggu hasilnya beberapa puluh tahun lagi saat generasi muda yang sekarang akan memegang kendali pemerintahan Indonesia. Di sini kita sebagai mahasiswa sudah sepatutnya tetap kritis dalam berpikir dan bertindak untuk mempertanggung jawabkan hak-hak rakyat. Kita tidak boleh menjadi mahasiswa yang “mlempem” dan “lunak”, karena kita yang memegang tonggak perubahan. Kekuatan sebuah negara bukan dipegang oleh pemimpinnya atau pasukannya, tapi dipegang oleh generasi mudanya yang akan meneruskan perjuangan bangsa.

Artikel berjudul “Pendidikan Pondasi Bangsa” ini adalah artikel lomba yang di adakan oleh Redaksi Seputarkuliah.com

Ditulis oleh: Alvin Christian Elby 
Kontak Instagram: @alvinelby
Subscribe to our newsletter
Sign up here to get the latest news, updates and special offers delivered directly to your inbox.
1 Comment
  1. […] Baca juga: Pendidikan Pondasi Bangsa. […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.