Kondisi subjektif yang disebut Sukses

Seputarkuliah.com “SUKSES”?? Siapa sih yang tidak mau sukses dalam dunia ini? Semua dari kita tentu ingin mencapai kesuksesan dalam kehidupan yang kita jalani. Beda tujuan, beda gambaran, beda visi, beda langkah, namun semua tertuju pada 1 hal jelas yaitu SUKSES.

Namun sering kali begitu banyak cobaan dan rintangan yang kita temui yang menghambat kita untuk mencapai suatu standar kesuksesan yang kita buat sendiri. Apakah ini sekedar “nasib”, kurang berusaha, suatu cobaan, atau mungkin hal ini merupakan keberhasilan yang tertunda?

Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba menuangkan perspektif pribadi saya tentang kata “sukses”.

 

Sukses? Milik siapa?

Banyak orang yang sudah berjuang mati-mati dan melakukan berbagai macam bentuk pengorbanan namun tetap gagal mencapai suatu hal yang ia perjuangkan. Baik urusan pekerjaan, hobby, cita-cita, hingga urusan percintaan. Kita merasa bahwa kita sudah memberikan 100% dari apa yang kita punya dan kita merasa bahwa sudah selayaknya kita mencapai kesuksesan yang kita dambakan.

Namun satu hal yang perlu kita sadari dan kita terima ialah, rencana yang dibuat oleh manusia belum tentu sama dengan rencana yang sudah Tuhan siapkan untuk kita. Sekeras apapun kita berjuang dan berkorban, jika Tuhan berkata “Tidak” maka pada akhirnya hasilnya akan tetap “Tidak”.

B. Hizkia adalah salah satu teman yang menjadi inspirasi saya dalam karya tulis ini. Kami berkuliah di salah satu universitas ternama di Bandung dan kami menekuni studi Hubungan Internasional (HI). Ia merupakan salah satu mahasiswa yang tergolong sangat cerdas dan memiliki kemampuan soft maupun hard skill yang seimbang. Ilmu yang ia miliki selalu ia bagikan pada teman-temannya. Kami juga beberapa kali belajar bersama setiap kali ada ujian atau quiz yang kami rasa cukup sulit dan disitulah kami berkumpul untuk berdiskusi bersama.

Dalam urusan akademik, kemampuan Hizkia sudah tidak perlu ditanya lagi. Sedari semester 1 hingga sekarang (saat ini baru selesai 6 dan mulai menginjak 7), Hizkia terkenal memiliki IPK yang diatas rata-rata. Dengan kondisi kepintaran yang ia punya, ia sama sekali bukan orang yang malas. Bahkan ia merupakan salah satu yang paling rajin dalam angkatan saya. Namun ternyata hal ini tidak serta merta menjadi jaminan untuk meraih cita-citanya dalam mendapatkan beasiswa demi mendukung masa kuliahnya di Bandung.

Baca juga: Langkah-langkah Mengatasi Kecemasan (Anxiety).

Sudah berkali-kali ia mendaftarkan diri pada kesempatan beasiswa baik yang disediakan oleh kampus maupun beasiswa dari luar kampus. Namun tidak satupun dari kesempatan itu berbuah manis. Kegagalan-kegagalan yang ia alami ini tidak menjadi penghambat baginya untuk terus mencoba setiap kesempatan yang ia temui. Siapa sangka segala kesabaran, jerih payah, pengorbanan, dan juga penantiannya terbayarkan di semester 5 pada saat ia berhasil mendapatkan salah satu beasiswa yang sudah lama ia idamkan.

Modal kesuksesan

Tidak ada syarat ataupun kondisi pasti yang bisa kita jadikan pegangan untuk mengukur langkah kita dalam proses mencapai kesuksesan. Memang ada suatu pola umum seperti kegigihan dan kesabaran dalam setiap kisah sukses yang mungkin pernah kita dengar. Namun dengan berbekal kedua hal ini pun, masih belum menjamin kita untuk dapat meraih kesuksesan.

Hizkia merupakan seseorang yang memiliki selera busana yang cukup baik. Meskipun koleksi baju yang ia miliki tidak terlalu banyak, namun ia cukup lihai memadupadankan kaos, kemeja, ataupun sweather yang ia miliki sehingga ia tidak pernah terlihat membosankan. Bagaimana ia berpakaian terkadang membuat beberapa orang berpikir bahwa Hizkia berasal dari keluarga “berada”. Semua orang berpikir bahwa ia sudah pasti pernah pergi ke luar negeri. Dan ternyata sekali lagi, kita tertipu oleh tampak luar yang begitu sederhana ini.

Hizkia berasal dari keluarga sederhana yang jauh dari kata kehidupan mewah. Orang tuanya yang bekerja di pabrik plastik mungkin tidak mampu memberikan hidup yang serba nyaman untuk anaknya. Namun dengan keterbatasan ini, ternyata mereka mampu memberikan sesuatu hal yang jauh lebih berarti dari materi bagi Hizkia dan juga saudari-saudarinya. Hal itu adalah optimisme dan juga kepercayaan diri.

Siapa sangka seorang mahasiswa HI yang begitu stylish, dan waktu itu sempat menetap di Lusiana Hall (salah satu tempat kost yang relatif mahal) ternyata berasal dari keluarga yang begitu sederhana. Biaya kuliah dan hidup Hizkia di Bandung ternyata dibantu oleh keluarga besarnya. Caranya berpakaian bukanlah merupakan cara Hizkia untuk menutupi latar belakangnya. Ia tidak malu untuk menceritakan dari mana ia berasal, Hizkia tidak malu terhadap keluarganya, Hizkia bangga akan keluargannya. Hizkia merupakan seseorang yang begitu menyukai dunia seni, dan caranya berpakaian merupakan salah satu ekspresi seni dari dirinya.

Mahasiswa HI di angkatan saya memang kebetulan banyak yang berasal dari keluarga yang cukup “berada” dan sudah banyak dari mereka yang bolak-balik luar negeri. Seperti yang ditulis sebelumnya, banyak yang mengira bahwa Hizkia sudah pernah pergi ke luar negeri. Namun kenyataanya, ia sama sekali belum pernah pergi ke luar negeri sampai akhirnya pada tahun 2016 lalu, Jepang menjadi negeri pertama yang ia kunjungi secara GRATIS. Ia ikut terlibat dalam salah satu projek bersama dosen di universitas kami dan akhirnya ia berkesempatan untuk mendapatkan sebagian besar akomodasi ke Jepang selama 11 hari.

Takut Gagal Mau Sukses???

Memasuki semester akhir, banyak dari kami yang mulai sibuk mencari magang ataupun juga beasiswa. Saya sering kali berbincang dengan Hizkia untuk mendengar pendapatnya tentang hal yang sedang saya targetkan. Senang rasanya jika sedang berbincang dengan Hizkia karena ia selalu memberikan input yang membangun. Ia sudah memiliki banyak pengalaman dalam usahanya mengejar cita-cita. Ia selalu mengingatkan saya untuk berani mencoba hal baru tanpa harus peduli dengan hasil akhirnya (berhasil atau tidaknya).

Hal ini membuat saya berpikir bahwa seseorang sekaliber Hizkia pun menemui banyak lika liku dalam prosesnya mencapai tujuan atau target dalam hidupnya. Ia pernah mengikuti seleksi beasiswa ke Jepang yang ternyata hanya akan meloloskan 1-2 orang dari total pendaftar se-Indonesia. Saya menyadari jika saya berada diposisinya waktu itu, saya bahkan tidak akan mencoba untuk mendaftarkan diri setelah mengetahui bagaimana ketatnya kondisi seleksi beasiswa tersebut. Namun saya sadar bahwa hal itu benar-benar salah karena saya hanya terfokus pada hasil akhir dan bukannya berfokus pada proses yang harus saya tempuh untuk mencapai target dan tujuan saya.

Berani, Optimis, Usaha, Berserah…

Sebenarnya banyak cuilan kesuksesan yang tersebar di sekitar kita yang mungkin sering kali tidak kita sadari. Atau bahkan kita menyadarinya, tapi kita mengabaikannya karena kita terlalu takut dengan apa yang kita sebut dengan kegagalan. Kita merasa begitu kecil dan tidak berdaya sehingga kita bahkan tidak berani untuk sekedar mencoba. Jika sudah begini, maka ucapkanlah selamat tinggal pada kesuksesan.

Sering kali kita yang hanya terfokus pada hasil akhir yang mana berada di bagian paling ujung dari setiap perjuangan. Kita justru melupakan bagian terpenting yaitu proses yang harus kita jalani, dan strategi seperti apa yang harus kita persiapkan untuk mencapainya.

Baca juga: Tips Sukses Berburu Beasiswa.

Usaha merupakan hal terpenting dari suatu kesuksesan. Namun seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, semua itu tidak akan terjadi jika memang Tuhan berkata lain. Maka selagi berusaha, jangan pernah lupa untuk selalu berserah kepada yang kuasa. Jika memang kita tidak mendapatkan apa yang kita minta, mungkin memang itu bukan yang terbaik bagi kita dan tidak sesuai dengan rancangan Tuhan bagi kita. Janganlah kecewa dengan kegagalan yang harus kita alami saat itu.

Kegagalan bukan merupakan kesia-siaan. Kegagalan merupakan pembelajaran untuk kesempatan selanjutnya. Jangan jadikan kegagalan sebagai alasan bagi kita untuk berhenti mencoba. Ambilah waktu untuk tenang, dan ucapkan selamat datang pada kesempatan yang akan datang. Tetaplah optimis dan terbuka pada setiap kesempatan yang menghampiri dan jangan pernah menyia-nyiakannya.

~Kita tidak akan pernah tahu usaha ke berapa dan doa yang mana yang akan terkabul. Namun keduanya memiliki kesamaan; perbanyaklah.~ (quoted from M.P. Silaban)
Terima Kasih.

Artikel berjudul Kondisi Subjektif yang Disebut “Sukses” ini adalah artikel lomba yang di adakan oleh Redaksi Seputar Kuliah (www.seputarkuliah.com).

Ditulis oleh: Natanael Alvin Widiyanto
(Bisa disapa lewat line : tanalvin)

#SeputarKuliah #SeputarKuliahCom

Bagikan:

2 thoughts on “Kondisi subjektif yang disebut Sukses

  1. Pingback: Pengangguran ? Aku sih NO!

  2. Pingback: Wait for a Minutes, Your Dreams is on Processing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *