Tiga Cara Melihat Uang

Hai sahabat seputarkuliah.com, semoga sedikit coretan ini senantiasa memberikan manfaat tersendiri untuk sekalian.

Kenapa sih aku sudah kerja keras, tapi penghasilanku tak berubah? Mengapa penghasilanku tak seimbang dengan kerjaku ? Aku sudah capek bekerja dengan penghasilan segini terus.

Apakah kita sering mengeluh untuk bekerja? Apakah kita sering merasa antara tenaga dan penghasilan tak sesuai? Mari renungkan 3 kondisi yang mungkin akan merubah sudut pandang, merubah sikap, dan semoga dapat menjawab 3 pertanyaan diatas, melaui sebuah tulisan oleh jemy v, convido.

Seorang pengamen masuk ke sebuah rumah makan. Segera ia mendatangi salah satu meja di mana sebuah keluarga sedang asyik menyantap ikan bakar. Pengamen itu pun segera memainkan gitarnya dan mulai menyanyi di dekat keluarga tersebut. Baru satu baris lagu dinyanyikan, si pengamen segera menyodorkan kaleng kosong kepada salah satu anggota keluarga tersebut. Sang Ibu yang sedang asyik menyantap hidangan dan tangannya masih belepotan kecap dan sambal dengan sangat berhati-hati dan bersusah payah merogoh uang receh dari tasnya. Kehadiran pengamen ini bukannya memberikan keceriaan tetapi sungguh mengusik ketenangan pengunjung yang hadir.

Selain suara sang pengamen fals, gitar tidak berirama, ia pun mendesak pengunjung untuk segera mengeluarkan uang. Sebelum ada tanda-tanda pengunjung akan mengeluarkan uang, si pengamen akan mulai mengetuk-ngetukkan kaleng kosong tersebut ke meja makan. Dan sebaliknya, begitu uang diterima, si pengamen pun langsung pindah ke meja lain. Pengamen tersebut melihat uang dengan mata. Dan berapa uang yang ia dapat? Mungkin uang 200 perak per pengunjung. Sesekali mereka mungkin mendapatkan pengunjung yang memberi mereka lima ratus atau seribu perak.

Di tempat makan yang lain, dengan menu yang sama yaitu ikan bakar, seorang pengamen lain mengambil tempat di salah satu sudut. Ia sudah melengkapi dirinya dengan microphone, gitar dan harmonika. Pada saat pengunjung mulai berdatangan, maka pengamen ini pun mulai melantukan lagu-lagu yang digemari oleh para pengunjung. Ia sangat terampil memainkan gitar dan harmonikanya, di samping suara yang merdu ia lantunkan. Setiap kali ia menyelesaikan satu lagu, ia tidak pernah meminta pengunjung untuk mengumpulkan uang. Bahkan ia sebenarnya tidak pernah meminta uang sama sekali selain meletakkan sebuah kotak persis di samping tempat ia berdiri. Apa yang terjadi? Cara melihat yang berbeda, memberi rezeki yang berbeda pula..

Para pengunjung yang merasa terhibur oleh kehadiran sang pengamen satu per satu mulai memasukkan uang ke dalam kotak itu. Biasanya, uang yang dimasukkan adalah uang kembalian dari membayar makanan mereka. Karena pada saat mereka memasukkan uang tersebut mereka tidak direpotkan oleh tangan yang kotor karena makanan serta mereka sedang memegang uang pecahan satuan besar plus merasa terhibur dengan performance si pengamen maka pengamen kedua ini pun mendapatkan pemberian yang lebih besar dibandingkan pengamen pertama sebelumnya.

Rata-rata para pengunjung memberikan seribu perak bahkan cukup banyak yang memberikan lima ribu perak. Pengamen yang satu ini melihat uang dengan pikiran. Ia telah memikirkannya dengan teliti bahwa bila ia menyodorkan kotak uangnya pada para pengunjung, maka pengunjung akan memberi dalam keadaan terpaksa. Dan uang yang diberikan secara terpaksa biasanya kecil jumlahnya.

Di rumah makan yang lainnya lagi, dengan menu tetap ikan bakar, pengamen yang berbeda menggunakan pakaian yang rapi. Dia menyapa ramah para pengunjung dan menghampiri meja mereka satu per satu. Dengan sangat sopan dan bersahabat, ia menanyakan apakah ada lagu kesukaan pengunjung yang ingin ia nyanyikan. Bila ada, maka ia pun segera memetik gitarnya dan melantunkan suaranya dengan merdu khusus untuk pengunjung tersebut.

Pada setiap kesempatan ia selalu memastikan apakah para pengunjung bisa menikmati lagu yang ia nyanyikan dan apakah kehadirannya bisa menghibur dan menemani para pengunjung yang sedang menyantap hidangannya. Si pengamen di sini tidak menyiapkan kotak uang apalagi kaleng kosong seperti pengamen-pengamen sebelumnya. Ia hanya menggelar CD lagu-lagunya dan memasang sebuah banner bertuliskan, “Marilah kita bersama-sama mengembalikan masa depan anak-anak yang putus sekolah.”

Memang setengah dari uang yang diperoleh si pengamen itu akan disumbangkan untuk membantu anak-anak putus sekolah di salah satu kampung. Hebatnya lagi, si pengamen tidak menetapkan harga untuk CD yang dijualnya itu. Bahkan bila ada pengunjung yang berminat dengan CD-nya namun kebetulan kehabisan uang untuk membayar makanan, maka si pengamen dengan senang hati bersedia memberikan CD-nya tersebut gratis.

Para pengunjung pun beramai-ramai membeli CD si pengamen tersebut. Bahkan banyak di antaranya yang membeli lebih dari satu untuk diberikan kepada temannya sebagai hadiah. Uang yang diberikan para pengunjung pun jauh lebih besar. Rata-rata mereka memberikan uang sepuluh hingga dua puluh ribu namun cukup banyak juga yang bersedia memberikan lima puluh hingga seratus ribu . Pengamen yang ketiga ini melihat uang dengan hati. Ia tidak melihat uang sebagai penghasilannya namun sebagai ekspresi kepuasan dan keikhlasan para pengunjung rumah makan tersebut. Bahkan ia tidak memperhitungkan uang tersebut sebagai kepentinganya melainkan sebagai kepentingan orang-orang yang menggantungkan harapan kepadanya.

Dari 3 kondisi diatas, kita dapat menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran, dan melihat, bagaimana perbedaan cara memandang dengan 3 hal tersebut. Apakah kita sudah melihat uang dengan hati atau pikiran? Ataukah kita masih melihat uang dengan mata?

Bila kita mengalami kesulitan dalam mendapatkan uang sebagai penghasilan kita, sering mengeluh dengan uang penghasilan kita, cobalah untuk menggunakan mata yang lain dalam melihat uang tersebut. Melihat uang dengan pikiran membutuhkan kecerdasan finansial. Melihat uang dengan hati membutuhkan kecerdasan spiritual yang diantaranya meliputi keikhlasan dan kesabaran. Uang yang kita harapkan mungkin tidak serta merta langsung kita rasakan saat itu. Namun bila sudah tiba saatnya, uang itu akan datang secara berkelimpahan. Jauh lebih banyak dari uang yang kita peroleh secara instan. Cara melihat yang berbeda ternyata memberikan rejeki yang berbeda pula. Dunia ini memang mengajarkan kita dengan cara yang aneh.

Bila kita terlalu bernafsu untuk mendapatkan uang, justru uang itu menjauh dari kita. Semoga kita bisa mulai melihat uang dengan pikiran dan terlebih lagi dengan hati !

Semoga bermanfaat!

Oleh : Muhammad Yoga Pratama, mahasiswa ekonomi islam unair 2015.

Kontributor Seputarkuliah.com

 

Jangan lupa berbagi!

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *