Betapa bodohnya Mujahid ini, masa depan itu berada didepan bukan dibelakang

MUJAHID BODOH

-Part I-

Berawal dari sebuah perjalanan suci dan petualangan nan putih, yang tak bisa dihitung betapa bodoh dan salah, yang  tak bisa memandang seluas luasnya dunia. Disinilah kisah dimulai, perjalanan itu tidaklah stagnan tetapi semakin melangkah kedepan, petualangan yang putih layaknya baju yang bersih akan tetap terkena berbagai macam hal yg dapat mengotorinya, begitu pula dengan petualangan ini yang tak selalu putih.

Berdiri menatap masa depan dengan tatapan yang kosong, yaa, hanya menatap, hanya melihat, tak mau berpikir realis bahwa setiap pergeseran pasti ada gesekan, setiap akibat pasti ada sebab, bukannya belum sadar akan tetapi tak sadar. Dunia ini berjalan tak akan dinamis kecuali engkau yang membuatnya dinamis, tak bergerak maka tak ada gerakan. Tak maukah kau bertanya “Mungkinkah keberhasilan dapat meninggalkanku?”.

Betapa bodohnya Mujahid ini, masa depan itu berada didepan bukan dibelakang, semakin tak melangkah maka semakin jauh dia berada didepan, dan bisa tak dapat terlihat. Disini dapat dilihat kerasnya perjuangan dan jauhnya perjalanan. Takkan kubiarkan diri ini menjadi Mujahid Bodoh walaupun akulah Sang Mujahid itu. Dan mungkin nanti engkau merasa  masa telah menghianatimu, tapi ternyata bukan masa yang menghianatimu, engkaulah yang menghianatinya, dia menunggumu, menunggu langkah-langkah kecilmu untuk bisa berjalan berdampingan kedepan.

Kuy melangkah walaupun hanya langkahan kecil, cobalah tanam kesadaran dipinggir hati, biarkan dia tumbuh dihati, walau berduri dan dapat menyayat, biarkanlah!. Kesadaran tuk melanjutkan perjuangan, kesadaran akan kekurangan, kesadaran akan kebodohan. Buatlah duri-duri itu menyakiti hatimu sampai menangis tersedu-sedu akan hal itu. Sepanjang hidupku kurela hanya untuk menatap hebatnya dunia dengan tatapan kosong tak berisi dan bermakna.

Sedih rasanya ketika diri ini tahu bahwa diri ini bukanlah apa-apa, diri ini hanyalah kotoran yang jika dilihat cuman memberi kesengsaraan dan rasa kesal bagi yang menemuinya. Tapi, dengan ini kan kujadikan semuanya menjadi bermanfaat layaknya kotoran yang dapat menjadi pupuk tuk tanaman. Lanjutkan perjuangan itu, lanjutkan, lanjutkan dan lanjutkan. Kalau seperti yang diketahu penyesalan ada dibelakang, tapi bagiku tiada kata penyesalan akan tetapi kesadaran yang belum menampakkan wujudnya.

Berjuanglah kawan, kejarlah kenginginan selama masih ada waktu, jangan hiraukan duri-duri penyesalan menyayatmu. Aku Sang Mujahid.

Malang

Senin, 15 Januari 2018

MUJAHID BODOH

-Part II-

Hari demi hari telah berganti, pertanda waktu takkan mundur tapi akan tetap selalu maju, akankah semua ini hanya mimpi, kenapa harus menanggung beban dunia seberat ini?. Seberapa hebat dirimu sehingga melupakan itu semua. Gejolak api kesombongan mulai membakar, kemalasan mulai menjadi-jadi, andaikan otak dan hati dapat bekerja sama, tak akan diri ini berada dibawah kebimbangan.

Terkadang kita merasa bahwa untuk apa dilakukan “nggak ah udah males, bosen gitu-gitu aja, ngapain coba?, gak penting-penting amat”. Disinilah terjadinya konfilik batin, yang membuat diri menjadi labil aka sebuah piluhan, yang dalam benak masih memikirkan kesenangan, tapi daam benak lain masih ada keinginan menjadi lebih baik. Yaps, Tuhan Maha membolak-balikkan hati, dan hati pun dapat membalikkan keadaan sehingga tak ada jalan jika itu hanya bermodalkan kesenangan.

Betapa bosannya perjalanan yang panjang, belum tiba di tujuan sudah merasa jenuh setengah mati, dimanakah ujungnya?. Ketiadaan ujungnya dari perjalanan ini membuat diri berkeinginan tuk menyerah, bahkan perjalanan yang sudah jauh direlakan sia-sia oleh keputus-asaan ini. Tapi, hati ini berkata lain bahwa segala sesuatu tak ada ujungnya, walau ada lagu “pergilah sampai ke ujung dunia” tapi pertanyaannya, ujungnya itu dimana.

Tiada kata terlambat, jangan lihat apa hasilnya, tapi lihat proses yang dijalaninya, apa yang telah didapat selama berjalannya waktu, apa yang dirasakan ketika sudah mulai bergerak dari diam. Lihatlah dari itu semua, sehingga kita sadar akan jauhnya perjalanan yang telah dilalui. Guncangan yang dirasa saat ini bukanlah apa-apa, rintangan-rintangan lain menanti depan.

Berbagai macam faktor yang membuat lalai dan lupa, terutama faktor-faktor eksternal berupa dari lingkungan, teman, bahkan dari keluargapun dapaat mempengaruhi semua itu, dan apalagi faktor terbesar yang membuat gundah selain faktor-faktor diatas yakni faktor-faktor percintaan. Segalanya dapat dihalau sesuai dari pengendalian diri sendiri, taruhlah kesemuanya pada waktunya yang sesuai pada waktunya.

Hidup bukan untuk dibodohi, bukan pula untuk selalu menurut, diri senidirilah yang dapat menentukan itu semua mengapa harus mengikut kalau memang tidak mau atau tidak sesuai dengan keinginanmu, hidup ini indah, hidup ini pilihan, hiduplah sebagai singa yang dimana selalu menerkam apa yang dipilih sebagai mangsa. Ujung dari semua ini bukanlah apa yang telah kau capai,dan bukan pula tujuan yang diinginkan, akan tetapi ujungnya ialah apa yang telah kau dapat dari semua proses untuk mencapai tujuan tersebut.

Malang

Senin, 15 Januari 2018

 

Dikirim dan ditulis oleh:

Nama : Fardien Faiz Syaputra
Alamat : Malang
Asal : Baubau Sulawesi Tenggara

Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman diri sendiri yg menginisiatif kepada perubahan dan kesadaran akan banyak halnya yang kurang dalam berpendidikan di bangku kuliah.

 

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *