Artikel

Published on February 5th, 2018 | by Admin Seputar Kuliah

Generasi Muda Tanpa Pendidikan, Ibarat Rumah Tanpa Tiang

Indonesia memiliki banyak peringatan hari- hari besar Nasional/ Internasional  dan hari –hari besar besar keagamaan. Terlebih untuk menumbuhkan jiwa Nasionalisme kepada segenap masyarakat Indonesia. Hal ini sangat penting, untuk mengingat dan mengenang hari yang bersejarah dan juga untuk mengetahui makna-makna dibalik peringatan hari-hari nasional tersebut. Salah satunya adalah hari pendidikan nasional, hari pendidikan nasional adalah hari dari jati diri bangsa dimana hari pendidikan bisa menggambarkan bangsa kita, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang peduli akan pendidikan, dan pendidkan dalah modal awal dari perkembangan bangsa, bangsa Indonesia.

Momentum hari pendidikan nasional selalu menjadi sebuah peringatan akan pentingnya pendidikan bagi sebuah bangsa. Perenungan ini juga menjadi perenungan bersama mengenai kualitas pendidikan di negara kita, Indonesia. Pendidikan memiliki peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Manusia tidak akan bisa beradaptasi dengan baik pada perubahan. Pendidikan juga memiliki tugas didalam menyiapkan pembangunan yang lebih baik lagi, untuk bangsa kita. Pendidikan merupakan masalah yang penting bagi setiap bangsa yang membangun. Sebagaimana diketahui, negeri ini menghadapi masalah pendidikan yang demikian rumit. UNESCO meletakkan Indonesia dengan Human Development Index (HDI) pada urutan ke-122 diantara 174 negara yang diteliti.

Pendidikan di Indonesia memiliki sistem yang cukup baik, hanya saja pelaksanaannya ketika di lapangan masih jauh dari yang diharapkan. Pendidikan di Indonesia tidaklah dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, atau bisa dikatakan banhwa keadilan pendidikan belum dirasakan seluruhnya oleh rakyat Indonesia. Pemerintah bukannya tidak bekerja, beberapa upaya  juga telah digiatkan beberapa tahun belakangan ini demi membuka akses pendidikan, seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dijenjang pendidikan dasar, beragam model beasiswa dan kartu Indonesia pintar. Juga bukan berarti selama 70 tahun tidak ada pencapaian di bidang pendidikan.

Menurunnya angka kualitas pendidikan di Indonesia ini  disebabkan oleh banyakknya anak –anak yang putus sekolah karena  ekonomi yang kurang, sehingga menyebabkan kualitas untuk baca tulis tidaklah tercapai. Hal ini sering dialami masyarakat yang berada di daerah pelosok negeri. Contohnya saja di Nusa Tenggara Timur, angka putus sekolah dasar dan menengah  pertama mencapai 6.800 orang per tahun. Penyebab putus sekolah ini lagi-lagi soal kemiskinan, infrastruktur buruk, dan kurangnya pemahaman akan pentingnya pendidikan. Kurangnya tenaga pendidik  makin menambah  daftar oanjang penderitaan dunia pendidikan di pedalaman. Tidak jarang saat siswa sudah semangat datang ke sekolah, mereka harus kecewa karena tidak ada guru yang datang. Distribusi guru antara pedalaman dengan perkotaan memang berbanding terbalik, di perkotaan kelebihan guru, sedangkan di pedalaman tenaga guru masih sangat minim.

Di daerah pelosok yang jauh dari hiruk pikuk ibukota memperoleh pendidikan yang layak merupakan sesuatu yang seharusnya didapatkan sebagai sesama warga negara Indonesia. Namun pemerintah kurang begitu peduli dengan  keberadaan generasi bangsa di daerah yang masih primitif dan jauh dari akses transportasi dan komunikasi. Fakta ini diungkapkan oleh ibuk Tiarna Siregar (47 tahun ) lebih tepatnya sebagai  ibu kandung saya, beliau sudah mengajar sekitar 32 tahun lebih lamanya di SDN 001 Rantau Kopar ( desa Sungai Rangau) Kecamatan Rantau Kopar, Kabupaten Rokan Hilir, Riau merupakan daerah yang sangat terpencil di kabupaten itu, untuk mencapainya menempuh jalan tanah sekitar 7 meter, dan sekitar jarak dari rumah (Duri, Kec.Mandau Kab. Bengkalis) sekitar  250 meter. Selain jarak yang lumayan jauh ini, keterbatasan sarana dan prasarana dalam mengajar sangatlah memprihatinkan. Hal inilah yang menyebabkan para guru kurang tertarik untuk mengajar di daerah pedalaman.

Gambar 1. Salah satu usaha para guru dalam menempuh perjalanan menuju sekolah dengan menggunakan perahu (sampan)

 

Gambar 3. Resiko para guru ketika cuaca dalam keadaan hujan,kendaraan bahkan pakaian mereka terkena ikut lumpur

Dibalik kekurangannya tersebut, Indonesia patut berbangga juga akan prestasi yang telah diestafetkan untuk generasi baru yang telah mengharumkan nama Indonesia di muka Dunia. Baru –baru ini , Indonesia di hebohkan oleh penemuan bocah cilik bernama Naufal Rizki, pelajar kelas 2 MTSN Langsa Lama, Kota Langsa, Aceh. Bagaimana tidak, ia mampu menemukan sebuah sumber baru untuk menghasilkan energi listrik dari pohon kedondong. Naufal yang awalnya hanya mencoba- coba ini akhirnya berhasil menciptakan tenaga listrik dari batang pohon. “Awalnya saat saya mempelajari ilmu pengetahuan alam, saya membaca bahwa buah yang mengandung asam katanya bisa menghantarkan listrik, akhirnya saya lakukan uji coba pada buah kentang. Setelah itu saya berfikir lagi, kalau buahnya mengandung asam berarti pohonnya juga mengandung asam, akhirnya saya melakukan eksperimen”, ujarnya saat diacara Pertamina Science Fun Fair 2016.

Gambar 3. Salah satu dokumentasi ketika Naufal sedang menghadiri acara Pertamina Science Fun Fair 2016

Salah satu kesuksesan ini menunjukkan Indonesia masih memperdulikan pendidikan dinegaranya. Sebab, pendidikan merupakan hak warga negara. Negara-negara yang tergabung dalam organisasi pendidikan, keilmuan dan kebudayaan perserikatan banngsa-bangsa (UNESCO), termasuk Indonesia, telah berkomitmen untuk memastikan pendidikan bisa diakses untuk semua orang. Pendidkan bagi semua bersifat inklusif, tanpa terkecuali. Kerumitan geografis, kemiskinan, masalah budaya, gender tak menjadi alasan untuk lalai memenuhi hak pendidikan. Konsep tersebut selaras dengan mukadimah Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan, pemerintah negara Indonesia dibentuk salah satunya untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”

Mendidik sungguh pekerjaan yang sangat berat dan melelahkan dan memang sangat wajar jika pemerintah memberikan perhatian khusus di bidang pendidikan. Karena generasi muda tanpa pendidikan akan membuat negara tercinta kita ini hancur di masa yang akan datang. Jika arti kemerdekaan dimaknai dengan sungguh- sungguh, semestinya tidak ada anak yang terpinggirkan dalam sistem pendidikan.

Merdeka!!!

Hidup Rakyat Indonesia !!!

Ditulis dan dikirimkan oleh:

Fb        : riskia agustina
Ig         : riskia agustina
Wa      : 082389156979
Email  : riskiaagustina38@gmail.com

Bagi teman-teman yang ingin mengirimkan tulisan bisa klik disini

Bagikan Artikel agar lebih bermanfaat:

Tags:


About the Author



Back to Top ↑

error: Content is protected !!