Komponen-Komponen Pembentuk Soft Skills yang Perlu Kalian Tahu

Kepemilikan soft skills menjadi hal yang sangat krusial untuk bisa bersaing di dunia kerja. Banyak cara untuk mengembangkan dan melatih soft skills tersebut.  Baik melalui partisipasi aktif di organisasi kampus ataupun aktif di komunitas hobi. Namun sebenarnya, komponen pembentuk soft skills itu apa saja sih? Siimak ulasannya berikut.

Kemampuan strategi :

  1. Kemampuan memikirkan terlebih dahulu hal apa yang baik untuk diucapkan: kemampuan menata tentang apa yang hendak dikatakan dan kemampuan memikirkan apa yang sebaiknya diucapkan
  2. Kemampuan memilih kata yang sesuai: kemampuan mengungkapkan maksud pembicaraan yang dibarengi logika global dan kalimat penjelas
  3. Kemampuan menjaga harga diri pendengar: kemampuan mengutarakan maksud dengan baik dengan cara menempatkan diri sebagai seorang pendengar dan memikirkan orang lain yang mendengarkannya.

Kemampuan komunikasi :

  1. Kemampuan mengingat informasi yang telah disampaikan lawan bicara: kemampuan mengingat informasi dan kebenaran informasi
  2. Menyampaikan hal-hal yang memang diyakini kebenarannya: kemampuan seseorang menjaga kebenaran ucapannya, karena fakta tidak benar yang disebarkan akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik
  3. Memberikan informasi yang secukupnya, karena memberikan informasi yang lebih dari cukup dapat membuat jenuh dan bingung lawan bicara.
  4. Memilih konteks pembicaraan yang melibatkan lawan bicara.

Kemampuan interaksi :

  1. Pemilihan topik pembicaraan yang aman: jangan memilih topik pembicaraan yang bisa menyudutkan lawan berbicara yang mengakibatkan hubungan menjadi renggang
  2. Pemilihan topik pembicaraan yang sesuai dengan situasi dan tempat dengan topik pembicaraan dapat membuat suasana dan hubungan menjadi tidak baik
  3. Penyesuaian bahasa, gaya bahasa dan variasinya: tangga terhadap penggunaan bahasa dan variasi bahasa yang diinginkan lawan bicara.

Kemampuan psikologis :

  1. Hilangkan prasangka buruk: tidak berprasangka buruk pada seseorang bukan berarti menutup mata akan sisi negatif orang tersebut. Tetapi melihat perbuatan dan kata-kata seseorang dari kacamata yang jernih, yang tidak dinodai niat untuk mencari keburukan seseorang
  2. Menganggap orang pada dasarnya baik: kemampuan seseorang melihat bahwa orang lain dasarnya baik apabila dia mampu mengenali sisi positif dari tindakan atau perkataan orang lain
  3. Menghindari merespons hal yang negatif dengan hal yang negatif: jangan melewati hal yang tidak baik dengan perbuatan yang tidak baik
  4. Menjaga kejernihan hati dan pikiran supaya teta positif: untuk menjaga pikiran teta positif harus menjaga hati dan pikiran tetap jernih. Hati yang bening akan membantu seseorang menghindari rasangka
  5. Menggeser cara pandang: kemampuan seseorang menggeser cara pandangnya ke sudut baru akan dapat membantu orang memahami fakta secara lebih baik
  6. Konsentrasi: kegagalan berkomunikasi dapat terjadi jika seseorang meletakkan fokus konsentrasi bukan pada lawan berbicara, tetapi pada diri sendiri
  7. Menahan diri: untuk berkomunikasi secara efektif, seseorang harus mamu menekan perasaan negatif yang dapat memicu terucapnya kata-kata yang tidak enak didengar.

                Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa soft skills seseorang dapat dibentuk dari 4(empat) komponen pembentuk, yaitu: komponen kemampuan strategi, kemampuan komunikasi, kemampuan interaksi, dan kemampuan psikologis. setiap komponen pembentuk soft skills tersebut dapat dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari dengan cara mempelajari dan melatih setiap hari.

                Mempersiapkan mahasiswa sebagai calon tenaga kerja dan calon pemimpin yang handal di masa mendatang tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik. Beberapa faktor penting yang harus mendapat perhatian adalah soft skills para mahasiswa meliputi kemampuan komunikasi, saling pengertian (mutual understanding) dengan orang dari berbagai latar belakang budaya, kemampuan kerja sama (teamwork), kepribadian kuat dan mandiri, serta kecakapan memimpin atau leadership skill. Sebagai contoh, Dahlan Nariman (2013) mengemukakan bahwa melamar kerja di Jepang yang paling dilihat bukan prestasi akademisnya, tetapi kemampuan berorganisasi, skill memimpin dan kerja sama. Jadi, sudah bukan waktunya perguruan tinggi hanya memfasilitasi mahasiswa dengan melulu kegiatan belajar mengajar di kelas melalui ceramah atau seminar yang terlalu formal. Lebih lanjut Dahlan mengemukakan bahwa banyak kegiatan di luar kelas yang bisa mengondisikan para mahasiswa memperoleh soft skills mereka dengan baik. Salah satunya adalah memfasilitasi mahasiswa untuk berorganisasi, dalam bentuk kegiatan organisasi kampus maupun proyek studi lapangan.

                Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa betapa pentingnya kedudukan soft skills itu bagi setiap individu dan seharusnya mendapat perhatian. Karena soft skills seseorang berpengaruh langsung secara positif terhadap kesuksesannya di dalam pekerjaan.

Tinggalkan komentar