Artikel

Published on June 3rd, 2018 | by Admin Seputar Kuliah

0

Bener Nggak Sih Skripsi Itu Horror?

Tulisan ini bukan hanya dikhususkan untuk mahasiswa tingkat akhir yang lagi nyusun skripsi, tapi bisa juga dibaca buat yang masih SMA, atau masih semester tingkat bawah, untuk ngasih gambaran buat kalian gimana sih skripsian. Bener gak sih skripsi itu horror?. Atau juga boleh dibaca oleh sarjana-sarjana yang udah lulus, buat mengenang gimana perjuangan waktu dulu nyelesaiin skripsi. Ini adalah pengalaman pribadi ku, yang semoga bisa memberi inspirasi bagi yang membaca tulisan ini. Oke check it out.

Di perguruan tinggi negeri, khususnya (karna aku kuliah di PTN). Ketika sudah selesai KKN, aku langsung dihadapkan dengan yang namanya “SKRIPSI”. Waktu mendengar kata keramat ini, rasanya hati jadi cenat cenut (kayak lagu SMASH), gundah gulana, cemas, bingung, seneng, pokoknya campur aduk deh, rasanya. Waktu itu di jurusanku, pas semester 7 mata kuliahnya tinggal satu. Dan puji syukur, nggak ada mata kuliah yang harus aku ulang. Catatan nih buat kalian yang masih di tingkat bawah. Kuliah itu jangan dibawa santai terus. Tapi juga jangan dibawa beban, gimana ya. Santai tapi pasti, itu sih bagusnya.

 Kalo udah semester akhir, baru deh nyeselnya. “Aduh, udah mau skripsian, eh masih ada matkul yang mesti ngulang. Udah pusing skripsi, masih harus ngerjain tugas kuliah”. See, daripada menyesal nanti, mending dicegah dari awal kan.

Oke, lanjut, waktu itu pas masuk kuliah semester 7, udah disuruh sama Jurusan untuk isi formulir Pendaftaran Judul Skripsi. Nah mulai deh bingung, mau judul apa nih? Tips dari aku, kalau kalian bingung sama judul apa yang mesti dibuat, coba deh kalian cari topik yang kalian suka dari mata kuliah yang udah diajarkan ( jangan bilang nggak ada), terus cari deh referensi jurnalnya di Google Scholar. Kalau serius, yakin deh, pasti ada satu dua judul yang  nyangkut di kepala. Setelah nemu judul yang pas untukku, dengan semangat 45, aku mengembalikan formulir ku ke jurusan, dan di mulailah penantian yang sangattt panjang. Kenapa bisa gitu?

Jadi, kalo di kampus-ku sendiri, terutama jurusanku. Kalau mau skripsian itu, harus nunggu SK dari Rektorat yang memutuskan siapa yang jadi dosbingnya. Mungkin beberapa kampus, sistemnya beda. Jadi beberapa minggu setelah pengajuan judul, belum ada info soal kapan SK itu bakalan terbit. Rasanya gondok banget. Udah disuruh daftar cepet-cepet, nyari judul juga buru-buru. Eh disuruh nunggu. Daripada nggak produktif, selain kuliah satu kali seminggu, aku juga mempersiapkan ujian TOEFL, karna kalau nggak ada sertifikat TOEFL nggak bisa sidang, dan ujung-ujungnya nggak lulus. Parahh!!!

Satu bulan berlalu, dan kabar sang SK belum ada juga, sementara temen-temen di jurusan lain udah mulai garap skripsinya. Kebayang kan perasaannya gimana. Rasanya nggak adil. Dan akhirnya setelah satu bulan setengah, pas buka grup wa kelas, ada pengumuman soal SK. Waktu itu rasanya hati berbunga-bunga, akhirnya penantian panjang berakhir. Tapi setelah aku baca dengan saksama, ternyata yang dikeluarkan hanya SK untuk 50 orang mahasiswa aja. Dengan hati deg-degan, aku melihat daftar nama yang ada. Dan kalian tahu saudara-saudara, nama aku nggak ada dalam daftar itu. Aku hanya bisa menghela nafas, dan mencoba sabar, walau pada kenyataannya satu kata. NYESEK. Sementara kedua teman akrabku, waktu itu udah mendapatkan SK-nya, dan mereka mulai merencanakan untuk mulai bimbingan sama dosen. Sedangkan aku dan salah satu temanku hanya bisa saling curhat, karna nggak bisa nerima SK yang dinamakan SK 1. Rasanya udah ditinggalin jauh sama temen. Sumpahh.

Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali fokus ke ujian TOEFL ku, tapi setiap ke kampus, saat liat yang lain udah antri bimbingan, dan aku belum, rasanya “ Aduh enak ya, jadi mereka udah bisa bimbingan, nah aku SK aja nggak tau nyangkut dimana”. Pokoknya hari-hariku dilalui dengan ngedumel terus (jangan ditiru ya). Dalam hati aku terus berkata, mungkin ini bukan waktu yang tepat buatku. Lumayan untuk menghibur hati yang sedih.

Tiga minggu setelah SK pertama terbit, terbitlah SK II, hati kembali cenat cenut, ada nggak namaku disana dan Puji Tuhan, namaku ada, beserta dengan dosbing yang cukup mengejutkan untukku, karna nggak sesuai dengan prediksiku. Esok harinya aku langsung pergi ke objek penelitianku, untuk memastikan, kalau aku bisa untuk meneliti disana. Penting nih buat kalian yang nanti mau nyusun skripsi, harus cek dulu, apakah objek penelitian kalian bersedia diteliti apa nggak, terus apakah ketersediaan datanya ada atau nggak. Kan gawat, kalau judul udah disetujui, tiba-tiba bermasalah di objek. So, jangan sampai kalian mengalami ya, karna untuk nyari objek penelitian itu nggak gampang.

Tibalah hari mengajukan judul/bimbingan ke dosbing. Pertama aku menemui dosbing utamaku. Dengan keyakinan yang tinggi aku yakin judul ku lolos (terlalu pede), soalnya aku juga udah membawa lengkap jurnal-jurnal yang berkaitan dengan judul ku itu, dan ternyata dosbing berkehendak lain, judul ku ditolak pemirsa. Bisa kalian bayangkan, gimana rasanya. Udah lama nunggu SK, eh judul ditolak. Aku pun terdiam di depan dosbingku. Lalu dengan ajaibnya dosbingku menawarkan judul untukku, dengan metopen yang berbeda dengan judulku sebelumnya, tentu aja aku syok dan bingung. Saat keluar dari ruangan dosbing, kepala ku mulai pusing, “Gimana nih aku nggak ngerti metopennya?” Dan saat ketemu dosbing pendamping, beliau langsung menyetujui judul dari dosbing pertamaku. Udah jadi tradisi sih, dosbing pendamping akan menghargai dosbing utama.

Dan akhirnya dimulailah perjuangan nulis proposal. Jadi pas kita skripsian, kita nggak langsung nulis skripsi. Namun harus membuat dulu yang namanya proposal penelitian dari bab 1-3, dengan semangat 45 aku ngerjainnya, meskipun aku kecewa dengan metopennya dan belajar sedikit demi sedikit memahaminya. Hiks. Perlu juga nih, kalian tanya-tanya kakak tingkat, kalau nggak ngerti, atau tanya-tanya temen kalian yang ngerti. Intinya jangan malu bertanya dan jangan sok-sok’an bisa sendiri. Kan hakikatnya manusia itu makhluk sosial.

Tibalah saat bimbingan proposal, dan ternyata  saat bimbingan, proposal ku dicoret abis-abisan sama dosenku di depan mataku, karna ada saja kekurangannya. Bayangin pas bimbingan ke dospem utamaku, baru baca latar belakang di kalimat pertama, langsung dicoret beliau pake silang gede. Gimana ya, rasanya karya kita yang udah dibuat sepenuhnya, dengan mudahnya dicoret. Aku hanya bisa menghela nafas. “Sabar- sabar, namanya juga skripsi. Nggak mungkin tanpa revisi.” Setelah itu, bimbingan lagi, dan terus bimbingan, kadang aku harus pulang sore hari, karna dosen pendamping ku, kadang punya waktu pas lagi sore. Oh ya, waktu bimbingan ini pasti meninggalkan cerita-cerita yang unik. Kita bisa nambah temen baru, dari yang awalnya nggak kenal, jadi akrab, karna sering nunggu sama-sama. Dan saat nunggu bimbingan, disitulah ajang curhat-curhat’an dimulai, dan dari situ kita belajar, kalau kita nggak sendiri ngadepin skripsi dan banyak orang yang melewati tantangan yang lebih dari kita alami. Memang sih, faktanya kalau bimbingan itu enaknya sama temen, intinya ada yang nemenin. Tapi, kita nggak bisa hanya selalu mau bimbingan kalau ada temen doang. Kadang kita harus bimbingan sendiri, nunggu sendiri, dan itu aku alami. Karna sekali lagi setiap orang, sekalipun teman kita punya prinsip masing-masing dan kita nggak bisa menyamakan prinsip kita sama mereka. Satu hal lagi, kadang yang membuat mahasiswa malas, adalah batalnya bimbingan. Emang sih rasanya, “Udah nunggu lama, udah nahan laper, udah pergi jauh-jauh, eh dosennya nggak bisa”. Kita juga harus paham, kalau kerjaan dosen bukan cuma jadi dosbing kita, tapi juga kerjaan lainnya masih banyak. Jadi, kalau hari ini batal bimbingan, besok datang lagi, datang lagi, sampe akhirnya diterima untuk bimbingan. Jangan cepat nyerah, sobat.

Dan akhirnya setelah 2 bulan pengerjaan proposal, akhirnya kata keramat “acc” dikeluarkan oleh kedua dosbingku. Wuihh rasanya bahagia dan bangga. Walaupun sebelumnya udah ada temen-temen yang seminar proposal, semuanya teman-teman yang dapet SK 1. Mulai deh ngebandingin, “Coba aku SK 1 dulu, mungkin sekarang udah nyusun bab 4 sama 5”. Tapi, aku percaya kalau ini waktu yang tepat menurut Tuhan. Setelah itu aku bersama temanku mendaftar ke jurusan untuk seminar proposal. Dan 2 minggu setelah mendaftar, ternyata jadwal seminar nya udah diumumkan. Inget ya, waktu seminar harus dipersiapkan baik-baik, kalian harus tahu kenapa kalian pilih judul itu, proses penelitiannya nanti gimana, dan apa manfaatnya nanti di dunia nyata. Kira-kira itu sih pertanyaan yang umum ditanyakan.

Hari hal seminar proposal, pagi-pagi aku udah sampe di kampus, karna nggak mau telat. Dan ternyata, seminar proposal nya ditunda, hingga akhirnya aku baru maju seminar, sekitar pukul setengah dua siang. Bener-bener bosan, ngantuk, ngedumel, dan makin deg-degan waktu itu. Rasanya selama nyusun skripsi ini, satu kata yang akrab sama aku. MENUNGGU.

Seminar pun dimulai, aku mulai menjelaskan latar belakang penelitianku, dan langsung dihujani bertubi-tubi pertanyaan terutama oleh dosen pengujiku. Waktu itu aku ketakutan kalau nanti judulku bakalan diganti. Tapi, Puji Tuhan, judulnya nggak diganti, namun ada beberapa revisi. Setelah seminar selesai, aku mulai buru-buru menyelesaikan revisi proposal ku. Lalu setelah beres, aku langsung mengerjakan bab 4 dan 5 yang merupakan bab utama dalam penelitian. Tips dari aku nih, jangan suka menunda pekerjaan, kalau kamu mau cepet selesai. Mungkin berat ya bagi sebagian orang, harus mengetik berjam-jam, harus bolak balik baca buku dan jurnal belum lagi ada kegiatan lainnya. Tapi paling nggak, satu hari, walau sedikit, kalian tetep ngerjain skripsi kalian.

Setelah melewati kepala pusing, tidur larut malam, makan telat, nggak nonton drama, dan berbagai hambatan lainnya, selesailah bab 4 dan 5 ku, dan di-mulailah bimbingan hasil. Berkali-kali bimbingan, sampai 5 kali, akhirnya kata keramat “acc sidang” keluar untukku. Wahh rasanya bangga dan bahagia, apalagi liat sebagian teman, masih ada yang masih stag, padahal mereka adalah SK 1. Jadi, skripsi itu bukan dilihat dari siapa yang memulai duluan, namun siapa yang mampu bertahan di setiap prosesnya.

Akhirnya, setelah mendaftarkan diri untuk sidang skripsi dan komprehensif. Di jurusanku memang ada sidang komprehensif, untuk melihat kemampuan mahasiswa selama 7 semester belajar. Cukup lelah belajarnya, karna materinya banyak, dan kita nggak tau materi mana yang akan ditanyakan. Seminggu setelah daftar, hari keramat itu datang “Sidang Skripsi dan Komprehensif”, kembali aku datang pagi-pagi ke kampus, demi menghindari hujan. Satu persatu kami dipanggil, dan akhirnya namaku dipanggil. Bohong, kalau bilang nggak deg-degan, dengan senyuman aku mencoba memulai presentasi skripsiku dan ajaibnya, sgala kekhawatiranku tentang skripsiku nggak terjadi. Malah sidang skripsi ku terbilang singkat dan tanpa revisi. Setelah itu langsung Sidang Komprehensif, para dosen bertubi-tubi menanyakan materi kuliah. Sebagian aku ingat, dan sebagian aku lupa. Tapi untungnya dosennya nggak terlalu marah (mereka memaklumi, karna nggak mungkin kita ingat semua matkul). Setelah itu aku disuruh menunggu di luar selama 2 menit, dan akhirnya aku masuk dan puji Tuhan, aku dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar sarjana. Kalau kalian tanya gimana rasanya. Rasanya seluruh apa yang kita perjuangkan dari awal nggak berasa apa-apa, dan dibayar dengan harga yang setara. Gelar Sarjana.

Begitulah perjalanan panjang skripsiku bagaimana bisa selesai. Mungkin bagi kalian yang membaca, wah enak ya, kayaknya lancar-lancar aja. Ingat ya, setiap orang punya tantangannya masing-masing, ada yang mudah di dosen, tapi sulit di data ataupun sebaliknya. Jadi, jangan membandingkan pencapaian-mu dengan temanmu. Lebih baik, kamu meniru pola bimbingannya, atau pola dia mengerjakan skripsinya, sehingga skripsimu nggak keteteran.

Finally, buat kalian yang sekarang masih dalam tahap berjuang. Semangat teman-teman. Ingatlah usaha kalian nggak akan sia-sia. Jangan mudah menyerah. Jangan malas bimbingan. Jangan suka menunda-nunda untuk ngerjain skripsi. Jangan takut revisi, karna revisi adalah salah satu proses dalam menyandang gelar sarjana. Ingat orangtua kalian dan orang-orang yang kalian sayangi, yang pasti menginginkan kalian lulus secepatnya. Dan pasti selain itu, kalian juga pasti mau lulus kan. Skripsi itu nggak bisa instan. Semuanya butuh proses, dan bertahanlah di proses itu.

Jadi, kesimpulannya skripsi itu nggak sepenuhnya horror. Tergantung bagaimana kalian mengerjakannya. Kalau sambil bersungut-sungut dan selalu bilang susah, ya bisa dibilang horror. Jangan sungkan-sungkan sama dosbing kalian, karna beliau lah yang mengerti bagaimana agar penelitian kalian hasilnya nanti baik. So, tunggu apa lagi. Ayo, buka file skripsimu. Segera ya.

Profil Penulis
Nama : Tessa Lonika Limbong
Alamat : Jalan Galunggung No. 14, Sungailiat
Asal Perguruan Tinggi : Universitas Bangka Belitung


About the Author



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top ↑

error: Content is protected !!